18 April, 2007

Naik Tangga dan Turun Tangga - Part 1

Naik tangga dan turun tangga
Aku nampak seekor naga
Naga tanya, 'Nak pergi ke mana?'
Aku pun jawab, 'Nak pergi ke sana'

17 April, 2007

A Nonsense Pantun Series - Part 1

It rhymes but makes not much sense.

Cucur pisang dan cucur keladi
Hari-hari cucur disaji
Minum air dan makanlah roti
Harap boleh turunlah salji

16 April, 2007

What's a 'Pantun'?

The answer from Wikipedia.org:

The Pantun is a Malay poetic form. The pantun originated as an oral literary form of expression traditionally used among the Malays. Pantun had been in its current form since 15th century at the latest, based on Malay manuscripts written within this period.

In its most basic form the pantun consists of even-numbered lines based on an abab rhyming scheme, with the shortest pantun consisting of two lines, and it can go up to 16 lines, but 4 is more likely. A pantun is traditionally recited according to a fixed rhythym and as a rule of thumb, in order not to deviate from the rhythym, every line should contain between eight and 12 syllables.

Pantuns are written in quatrains, generally following an abab rhyme scheme. The second and fourth lines of each stanza become the first and third lines of the following stanza. Finally, the first and third lines of the first stanza become the second and fourth lines of the last stanza, usually in reverse order so that the first and last lines of the poem are identical.

Quatrains: A quatrain is a poem or a stanza within a poem that consists of four lines. It is the most common of all stanza forms in European poetry. In its narrow meaning, the term is restricted to a complete poem consisting of only four lines. In its broader sense, it includes any one of many four-verse stanza form.

Rhyme Scheme: A rhyme scheme is the pattern of rhyming lines in a poem or in lyrics for music. It is usually referred to by using letters to indicate which lines rhyme. For example "abab" indicates a four-line stanza in which the first and third lines rhyme, as do the second and fourth.

Stanza: In poetry, a 'stanza' is a unit within a larger poem. (The term means "room" in Italian.) In modern poetry, the term is often equivalent with strophe; in popular vocal music, a stanza is typically referred to as a "verse" (as distinct from the refrain, or "chorus").

Hari Hari...

Hari hari dikena uji
Uji fikiran serta rohani
Cucur pisang kitalah saji
Hadapi masalah dengan berani

15 April, 2007

A PG-13 Pantun Series - Part 7

Sifu ku kata, tungganglah buaya
Janganlah tanya sama ada bahaya
Sijil tak lurus, jika kaki tak putus
Itulah Sifu aku yang bagus

14 April, 2007

Bubur Pisang

Bubur pisang memanglah senang
Pisang dikisar bersama lada
Sedikit garam dan juga bawang
Baunya harum, marilah rasa

A PG-13 Pantun Series - Part 6

Sifu ku kata, panjatlah pokok
Jangan merokok dan janganlah kekok
Walaupun tinggi, memanglah pasti
Kalau buat silap, jatuhlah mati

13 April, 2007

A PG-13 Pantun Series - Part 5

Sifu ku kata, jangan kelahi
Kalau kelahi, makanlah tahi
'Tahi siapa?' Aku nak rasa
Tahi pelanduk mari kita cuba

Bill Gates Planning Space Trip?

Microsoft OS kitalah guna
Nama Bill Gates, tiada diduga
Melawat angkasa tidak bermakna
Kalau tak beli 'Space Station' juga

Sebiji Telur...

Sebiji telur kitalah rebus
Semangkuk air untuk mi segera
Kita mesti bertungkus-lumus
Kalau tidak, memang sengsara

12 April, 2007

Sifu

Pisang tanduk dimakan beruk
Bila ditegur kenalah kutuk
Aku bukan hendak menunjuk
Dengan Sifu aku menunduk

Kepala Pening

Mari bersama kita menyanyi
Bolehlah hilang perasaan sunyi
Macam-macam hal terjadi-jadi
Kepala pening semanjak tadi

100 Million iPods Sold

100 juta, iPod dijual
Saham Apple meningkat pantas
Mendengar lagu bila berbual
Menonton video bila di tandas

A PG-13 Pantun Series - Part 4

Sifu ku kata, angkatlah batu
Berdiri di situ dan tanggalkan baju
Walaupun sakit, tak boleh menjerit
Di bawah matahari yang perit

11 April, 2007

A PG-13 Pantun Series - Part 3

Sifu ku kata, buat kerja rumah
Kalau tak hemah, akibatnya parah
Parah tak penting jika berbanding
Digantung terbalik di atap siling

Kalau Otak Sentisa Berpusing

'Waterfront' yang indah, penduduknya riang
Inilah Kuching, bandar tersayang
Duduk termenung, sampailah siang
Bila dah lapar, makanlah pisang

Duduk termenung, sampailah siang
Fikir-memikir perkara yang penting
Macam mana bolehlah riang
Kalau otak sentisa berpusing

Otak aku sentiasa berpusing
Banyak jawapan tak boleh diteka
Keluarga dan kawan memanglah penting
Kita hidup kerana mereka

Tunduk dan Angguk

Cucur pisang dan cucur cendawan
Memanglah sedap dimakan bersama
Kalaulah salah, janganlah lawan
Cuma tunduk dan angguk kepala

Makanlah cucur dengan wasabi
Panas dan pedas, keluar air mata
Kalau marah, jangan panas hati
Tenangkan diri lebih berguna

Inilah Kuching...

Inilah Kuching, bandar tersayang
Langitnya cerah, rumputnya hijau
Burung berterbang melayang-layang
Masalah kecil, jangan dirisau

Inilah Kuching, rumputnya hijau
Udaranya segar, airnya jernih
Marilah kita merayau-rayau
Berpegang tangan, janganlah sedih

Inilah Kuching, airnya jernih
Bersinar-sinar suria di awan
Senyuman manis, kitalah kasih
Kepada keluarga dan juga kawan

A PG-13 Pantun Series - Part 2

Sifu ku kata, janganlah bising
Kalaulah bising, matamu kering
Sifu tak bohong ataupun tolong
Bila dah kering, ada terowong

10 April, 2007

A PG-13 Pantun Series

This is the first of my 'Sifu Ku Kata' pantun series. It will be rated PG-13.

Sifu ku kata, janganlah nakal
Kalaulah nakal, kulitmu gatal
Gatal tak apa, Sifu ku kata
Nanti juga dimakan naga